10 Gapoktan/Poktan terima bantuan Dryer dari Pemerintah

0
837
image_pdfimage_print

HUMAS CILACAP. Sepuluh Gabungan kelompok tani/Gapoktan dan Kelompok tani/Poktan di Kabupaten Cilacap menerima bantuan dryer/ alat pengering padi/jagung dan Sentra Pelayanan Pertanian padi terpadi/SP3T tahun 2018, dari Pemerintah.

Penyerahan dan uji coba Dryer, dilakukan oleh Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji kepada para Ketua Gapoktan, di desa Pesanggrahan Kecamatan Kroya, Rabu (30/01). Kegiatan tersebut dihadiri, Forkompimda, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Kepala Dispanbun kabupaten Cilacap, Kepala Bulog Sub Divre IV Banyumas, Camat Kroya, dan undangan lain.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Supriyanto, ST, MT, sepuluh Gapoktan penerima bantuan dryer bantuan dari Pemerintah pusat antara lain, Gapoktan Tani Maju desa Pesanggrahan Kecamatan Kroya dengan kapasitas enam ton, Poktan Jangkar Bumi desa Kalijeruk Kecamatan Kawunganten kapasitas 6 ton, Gapoktan Marsudi Tani desa Klumprit desa Nusawungu dengan kapasitas dryer 10 ton, Gapoktan Brayan Makmur desa Banjareja Nusawungu kapasitas 10 ton, Gapoktan Ngudi Rejeki desa Karangsari Kecamatan Adipala kapasitas 10 ton, Poktan Taruna Tani Akur desa Mentasan Kecamatan Kawunganten kapasitas 6 ton, Gapoktan Sumber Rejeki desa Mulyadadi Majenang kapasitas 10 ton, Gapoktan Murih Rahayu desa Sumingkir Jeruklegi kapasitas 6 ton, Gapoktan Ngudi Rahayu desa Kuripan Kecamatan Kesugihan kapasitas 10 ton dan bantuan Sentra Pelayanan Pertanian Padi Terpadu/SP3T 1 unit untuk Gapoktan Rukun Sentosa desa Sikampuh Kroya.

Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji dalam kesempatan tersebut menyampaikan,  pembangunan sarana pertanian diharapkan dapat semakin meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil tani di Kabupaten Cilacap, sehingga mampu bersaing dalam memenuhi kebutuhan pasar akan serapan gabah.

Menurut Bupati, dengan tambahan peralatan dryer, hasil panen para petani mampu memenuhi standar yang ditetapkan oleh Bulog maupun pelaku usaha lainnya, sehingga penjualannya akan semakin tinggi, yang pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan para petani dan masyarakat.

Bupati mengemukakan, luas areal persawahan di Kabupaten Cilacap  mencapai 64 ribu hektar lebih. Hal ini merupakan potensi yang sangat besar apabila dapat dimanfaatkan secara optimal, tidak saja bagi peningkatan produksi pertanian, tetapi juga bagi peningkatan kesejahteraan para petani pada khususnya dan masyarakat Kabupaten Cilacap pada umumnya. Selain itu, berkat kerja keras kita bersama, Kabupaten Cilacap berhasil mencapai surplus dari tahun ke tahun.

Penggunaan dryer/alat pengering padi diterapkan pada beberapa kelompok tani di wilayah Kabupaten Cilacap, diharapkan kadar air hasil panen dapat terus ditekan, sehingga kualitas panen akan semakin baik, ujar Bupati.

Disamping itu, lanjut Bupati, Pemkab Cilacap membangun Sentra Pelayanan Pertanian Padi Terpadu, yang dilengkapi dengan bangunan pelindung, mesin pemanen padi, mesin pengering padi, mesin penggiling padi, mesin pengemas dan alat angkut.

Pembangunan Sentra Pelayanan Pertanian Padi Terpadu ini diharapkan mampu membentuk kelompok tani Kabupaten Cilacap menjadi satuan usaha yang tangguh, modern dan mandiri, ujar Bupati.

Sementara itu Ketua Gapoktan Tani Maju desa Pesanggrahan Kecamatan Kroya, Subandi Sumodiarto mengemukakan, beberapa keuntungan yang diperoleh dengan penggunaan dyer, para petani dapat menghemat biaya dan waktu dalam pengeringan gabah.

Kalau pengeringan gabah dilakukan secara manual, untuk gabah sebanyak 6 ton, maka dibutuhkan waktu selama tiga hari. Itupun kalau tidak hujan. Tenaga kerja yang dibutuhkan sebanyak tiga orang dengan upah sebesar Rp. 100 ribu per orang. Jadi total biaya sebesar 900 ribu, ujar Subandi.

Sedang ketika menggunakan dryer, waktu yang dibutuhkan untuk mengeringkan gabah sebanyak 6 ton, hanya butuh waktu selama sembilan jam, dan biaya tenaga kerja yang dibutuhkan sebanyak 300 ribu, ditambah biaya solar sebanyak Rp. 178 ribu dan arang sekam 300 kg senilai Rp, 150 ribu. Jadi total biaya yang dibutuhkan untuk mengeringkan gabah 6 ton hanya butuh Rp. 628 ribu. Sementara kalau pengeringan secara manual biaya yang dibutuhkan sebesar Rp.900 ribu lebih. Jadi ada penghematan biaya sebesar Rp. 250 ribu lebih, ujar Subandi. (hromly)