Bupati Buka Lapak Petani

0
275
image_pdfimage_print

HUMAS CILACAP. Sedikitnya 20 petani produsen ikut ambil bagian dalam Lapak Petani yang digelar oleh Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, di halaman Dinas Pertanian, Jumat (25/01).

Lapal Petani menampilkan berbagai produk pertanian dibuka oleh Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji. Masyarakat bisa langsung mendapatkan barang asli yang masih segar, langsung dari petani. Bukan melalui tengkulak, pedagang, atau barang dari luar kabupaten.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Supriyanto, animo masyarakat pada ajang Lapak Petani ini yang cukup tinggi, dan ini diluar ekspektasi Dinas Pertanian. Meski animo masyarakat cukup tinggi terhadap program ini, pihaknya akan mengevaluasi program Lapak Petani ini, ujar Supriyanto.

Melalui Lapak Petani, lanjut Supriyanto, Dinas Pertanian mencoba menemukan petani melalui kelompok-kelompok tani dengan masyarakat langsung. Rantai distribusi yang sebelumnya cukup panjang, karena harus melewati Tengkulak, pedagang, hingga pengecer, bisa terputus dengan Lapak Petani ini.

Karena produk yang dijajankan di lapak Pertani berasal langsung dari petani, maka harganya pun dipastikan lebih murah dari harga pasaran. Bagi petani, mereka bisa mengambil keuntungan dari margin harga pasar, ujar Supriyanto.

Supriyanto mengemukakan, pada Lapak Petani, Dinas Pertanian telah menentukan batasan harga yang boleh dipakai petani, yakni maksimal harga dasar di lokasi panen, ditambah setengah dari margin harga pasar dan harga petani. Apabila salah satu produk di lapangan atau dari petani harganya Rp 5 ribu, sementara harga di pasaran Rp 10 ribu. Berarti ada margin Rp 5 ribu. “Maka petani boleh menjual maksimal dengan harga Rp 5 ribu, ditambah margin tersebut dibagi dua atau Rp 2.500. Jadi maksimal petani bisa menjual dengan harga Rp 7.500,” imbuhnya.

Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji dalam kesempatan tersebut mengemukakan, disparitas harga produk pertanian yang cukup besar, antara harga yang ada dipasaran, dengan harga yang berasal langsung dari petani masih menjadi persoalan utama di sektor pangan di Kabupaten Cilacap.

Menurut Bupati, panjangnya rantai distribusi, mulai dari petani, tengkulak, hingga pedagang eceran, menjadi salah satu penyebab disparitas harga di sektor pangan ini cukup tinggi. Keadaan seperti ini, selain membuat harga di pasaran tinggi, bagi petani juga tidak menguntungkan. Karena petani tidak bisa menikmati harga tinggi dari produksi pertaniannya.

Melihat potensi Sumber Daya Alam/SDA yang dimiliki Kabupaten, Menurut Bupati, petani di Cilacap seharusnya bisa sejahtera. Sebagai Kabupaten terluas di Jawa Tengah, Cilacap memiliki lahan yang luas. Hal ini merupakan potensi yang sangat besar untuk mensejahterakan petani, asal petaninya tidak loyo.

Petani tidak sejahtera, menurut Tatto bisa disebabkan beberapa hal, diantaranya karena harga hasil produksi yang murah, dan petani banyak merugi. Supaya tidak rugi pertama kualitas produk petani bisa ditingkatkan.

Dalam melindungi harga produksi pertanian, Pemerintah menurut Tatto, harus turun tangan. Salah satunya dengan memfasilitasi para petani melalui program, tempat atau lapak bagi petani, untuk menjual langsung produksinya kepada masyarakat.

Bupati minta kepada para pejabat di Cilacap untuk bisa turun tangan. Kalau perlu ada bapak asuh dari BUMN, seperti Pertamina, Holcim, S2P, Perbankan dan lain sebagainya, untuk ikut mendampingi atau memodali program ini,” ujar Tatto.

Tatto mengungkapkan, Pemkab saat ini sedang mewacanakan, Lapak Petani ini bisa diselenggarakan minimal satu kali dalam seminggu atau saat hari libur. Pemkab berencana akan menggelar Lapak Petani ini di Jalan Katamso saat hari libur. (hromly)